Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Koreksi besar pada harga emas dalam tiga bulan terakhir memang membuat banyak investor was-was. Tapi Barclays justru melihat ini sebagai gangguan jangka pendek, bukan perubahan arah fundamental. Dalam riset terbarunya, tim analis cross-asset Barclays yang dipimpin Lefteris Farmakis dan Themistoklis Fiotakis menjelaskan bahwa penurunan harga emas dipicu oleh penguatan dolar AS, reli S&P 500 sebesar 10%, dan likuidasi posisi leveraged di pasar logam mulia — termasuk aksi jual cadangan emas oleh bank sentral Rusia dan Turki.
Menariknya, Barclays menghitung bahwa penguatan dolar dan reli saham hanya menyumbang sekitar 10% dari total penurunan harga emas. Sisanya berasal dari unwinding posisi spekulatif — bukan dari perubahan fundamental jangka panjang. Faktor-faktor struktural yang selama ini mendorong emas naik — inflasi persisten, ketidakpastian kebijakan moneter, dan diversifikasi cadangan bank sentral — masih utuh dan akan kembali mendominasi begitu tekanan geopolitik dari krisis Selat Hormuz mereda.
Barclays saat ini memperkirakan fair value emas berada di $4.150 per troy ounce (sekitar $134 per gram). Lebih jauh, bank ini menghitung bahwa setiap kenaikan 1% inflasi akan mendorong harga emas naik sekitar 5% — dan mereka percaya impuls inflasi dari kenaikan harga energi pasca-krisis Iran akan menjadi angin segar bagi emas. Proyeksi harga mereka tetap dipertahankan: $4.791 per ounce untuk 2026 dan $4.900 untuk 2027, meski mereka mengingatkan masih mungkin ada sedikit tekanan mark-to-market dalam jangka sangat pendek.
Dalam jangka menengah, Barclays memproyeksikan dolar AS kembali melemah, pembelian emas oleh bank sentral global kembali konsisten, dan tekanan inflasi terus berlanjut akibat harga energi yang lebih tinggi. Mereka juga merekomendasikan eksposur ke saham-saham pertambangan emas seperti Endeavour, Hochschild, Fresnillo, Newmont, dan Agnico Eagle. "Terlepas dari fluktuasi harga belakangan ini, kalau ada satu periode di mana emas seharusnya diperdagangkan dengan premium — itulah sekarang," tulis tim analis Barclays.
Buat investor emas ritel di Indonesia, pesan dari riset Barclays ini cukup jelas: koreksi yang terjadi bukan sinyal pembalikan tren, melainkan peluang akumulasi bagi yang punya horizon investasi menengah-panjang. Kalau kamu tertarik menambah kepemilikan emas fisik, kunjungi toko Anekalogam di Mall Artha Gading atau lihat koleksi lengkapnya di anekalogam.co.id.