Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Kami membagikan berita-berita terkait logam mulia dan valas secara berkala. Informasi yang kami berikan berasal dari sumber terpercaya sesuai dengan keadaan dan perkembangan tentang logam mulia dan valas terkini.
Emas menutup pekan dengan penurunan 1,36% di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Perhatian kini beralih ke keputusan suku bunga dari 5 bank sentral utama dunia.
Harga emas memang sedang bergerak datar di kisaran $4.600-$4.900 per ounce. Tapi jangan salah — di balik ketenangan ini, fondasi emas justru makin kokoh berkat akumulasi besar-besaran oleh bank sentral dunia.
Meski harga emas terlihat lesu di kisaran $4.700 per ounce, seorang manajer investasi menegaskan bahwa koreksi ini justru peluang — apalagi setelah bank sentral China mencatat pembelian emas terbesar sejak awal 2025.
Harga emas futures naik $19 ke level $4.758/oz di tengah perpanjangan gencatan senjata AS-Iran — tapi komentar hawkish calon Ketua The Fed Kevin Warsh membatasi laju kenaikan.
Bank sentral Rusia sudah menjual 21,8 ton emas sejak awal 2026 untuk menutup defisit anggaran yang mencapai $61,2 miliar. Di sisi lain, permintaan emas domestik justru melonjak drastis.
Emas merosot tajam lebih dari $100 dalam sehari — dari $4.842 ke sekitar $4.700 per troy ounce — dipicu penguatan dolar AS dan kekhawatiran inflasi yang meningkat akibat konflik Iran yang belum mereda.
Harga emas naik seiring penurunan minyak, tapi kondisinya tidak sesederhana itu. Dinamika Iran dan pergerakan mata uang global membuat jalur emas jadi lebih rumit.
Harga emas sempat tertahan di kisaran $4.800/oz akibat tekanan real yield dan ketidakpastian Iran. Tapi Standard Chartered yakin fondasi struktural masih kuat — target $4.850/oz menanti di kuartal III.
Harga emas saat ini di kisaran $4.653/oz, namun Chris Mancini dari Gabelli Gold Fund tetap yakin target medium-term tembus $6.000/oz. Pemicunya kombinasi perang Iran, lonjakan belanja militer, dan paradigma baru de-dolarisasi global.