Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Para investor memang sibuk mencermati kebijakan The Fed (bank sentral Amerika Serikat), pergerakan suku bunga, dan nilai tukar dolar — tapi ada faktor yang lebih menentukan arah jangka panjang emas yang kerap terlewat: pembelian bank sentral. Riset dari berbagai lembaga besar menunjukkan kesimpulan yang sama: pergeseran struktural bank sentral dunia menuju emas sebagai aset cadangan masih berjalan penuh.
Pekan ini, OMFIF (Official Monetary and Financial Institutions Forum) merilis survei tahunan mereka terhadap para pengelola cadangan bank sentral. Hasilnya cukup mengejutkan: para manajer cadangan disebut “overwhelmingly constructive” — atau sangat optimistis — terhadap emas, dengan banyak di antaranya memperkirakan harga emas akan berada di kisaran USD 5.000–6.000 per troy ons dalam setahun ke depan. Yang lebih penting, survei ini menegaskan bahwa daya tarik emas jauh melampaui sekadar kenaikan harga jangka pendek.
Bagi bank sentral, emas adalah aset cadangan esensial — memberikan diversifikasi, likuiditas, dan perlindungan di tengah lanskap geopolitik global yang semakin terfragmentasi.
Survei OMFIF ini muncul hanya dua minggu setelah World Gold Council (WGC) merilis survei tahunan mereka tentang cadangan emas bank sentral. Hasilnya senada: rekor 45% bank sentral menyatakan akan menambah kepemilikan emas mereka dalam 12 bulan ke depan, sementara hampir 90% meyakini total cadangan emas resmi global akan terus meningkat. Goldman Sachs pun mempertegas outlook positif ini — dalam laporan terbarunya, mereka memperkirakan harga emas bisa mendekati USD 4.900 per troy ons tahun depan, dengan permintaan dari bank sentral sebagai salah satu pilar utama yang menopang pasar.
Yang membedakan bank sentral dari investor ETF atau trader spekulatif adalah niat di balik pembelian mereka. Bank sentral tidak sedang mencoba menebak waktu terbaik untuk masuk dan keluar pasar. Mereka membeli karena alasan strategis: diversifikasi cadangan devisa, mengurangi ketergantungan pada dolar AS, dan semakin pentingnya memegang aset yang bersifat netral secara politik. Menariknya, siklus ini memperkenalkan dinamika baru: untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, pembeli dominan di pasar emas adalah institusi yang mengambil keputusan dengan horison waktu puluhan tahun — bukan kuartal ke kuartal.
Selama bank sentral terus menambah cadangan emas di level yang secara historis tinggi, fondasi struktural permintaan jangka panjang tetap kokoh. Bagi investor ritel, koreksi harga emas bisa datang dan pergi — tapi tren besar di balik layar terus berjalan. Kalau kamu ingin menambah kepemilikan emas fisik, kunjungi toko Anekalogam di Mall Artha Gading atau cek pilihan produk di anekalogam.co.id.