Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Saturday, 27 June 2026

Emas di Titik Kritis $4.000, The Fed Hawkish Ancam Tren Penurunan Berlanjut

Empat Pekan Melemah: Ada Apa dengan Emas?

Emas sedang tidak dalam kondisi terbaiknya. Logam mulia ini mencatat penurunan empat minggu beruntun — tren negatif terpanjang dalam hampir tiga tahun. Penyebab utamanya adalah kombinasi faktor global yang tidak berpihak: perang di Iran membuat harga minyak melonjak, inflasi kembali memanas, dan The Fed (bank sentral Amerika Serikat) justru berbalik arah menjadi hawkish — memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.

Saat suku bunga naik, biaya peluang menyimpan emas (yang tidak berbunga) ikut meningkat. Dolar AS pun menguat karena ada narasi baru yang kembali populer di Wall Street: American Exceptionalism — ekonomi AS tetap tangguh meski dunia sedang goyah. Emas yang biasanya menjadi pelarian investor kini kalah bersaing dengan obligasi AS yang menawarkan imbal hasil menarik.

Para Analis Memperingatkan: $4.000 Bisa Jebol

Christopher Vecchio dari Tastylive menyebut perhatiannya kini terfokus pada yield obligasi dua tahun AS. “Kalau The Fed terus bergerak ke arah kenaikan suku bunga, kita bisa melihat emas masuk ke kisaran $3.000-an,” ujarnya.

Alex Kuptsikevich dari FxPro menambahkan peringatan teknikal: grafik emas baru saja membentuk death cross — pola saat moving average 50 hari melintas di bawah moving average 200 hari. Ini sinyal bearish yang diperhatikan serius oleh para trader.

Fawad Razaqzada dari FOREX.com memetakan skenario yang lebih spesifik: jika emas gagal bertahan di atas $4.000 dan kembali turun, target berikutnya bisa ke $3.500 dalam beberapa minggu ke depan. Sebaliknya, jika mampu bangkit, resistensi pertama ada di $4.098 lalu $4.200.

Tapi Ada Juga Alasan untuk Tidak Panik

Menariknya, tidak semua analis pesimis. Beberapa justri melihat harga saat ini sebagai nilai menarik untuk investor jangka panjang. Mereka mengingatkan bahwa permintaan emas dari bank-bank sentral dunia (termasuk dari Asia dan Timur Tengah) tetap solid, dan ini menjadi “lantai” yang cukup kuat untuk mencegah penurunan terlalu dalam.

Fahad Tariq dari Jefferies bahkan mempertanyakan apakah The Fed benar-benar akan menaikkan suku bunga. Menurutnya, dengan harga minyak yang kembali turun di bawah $70 per barel, The Fed bisa saja memilih strategi look through — mengabaikan sementara tekanan inflasi tanpa harus mengerek suku bunga. Alasannya: dampak politik dan fiskal dari kenaikan suku bunga terlalu berat di tahun politik ini.

Minggu Depan: Data Tenaga Kerja AS Jadi Penentu

Semua mata kini tertuju ke laporan Nonfarm Payrolls (data ketenagakerjaan AS) yang akan dirilis Kamis, 2 Juli — sehari lebih awal dari biasanya karena pasar AS tutup Jumat untuk perayaan Hari Kemerdekaan ke-250 Amerika.

Jika data tenaga kerja lebih kuat dari perkiraan, narasi hawkish The Fed makin menguat dan emas bisa kembali tertekan di bawah $4.000. Sebaliknya, data yang lemah bisa menjadi amunisi bagi para pembeli untuk mendorong emas kembali ke $4.100–$4.200.

Bagi investor emas di Indonesia, pergerakan ini penting untuk dicermati — terutama karena nilai tukar rupiah juga ikut dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed. Jika Anda ingin mendiskusikan strategi beli emas di tengah kondisi seperti ini, tim Anekalogam di Mall Artha Gading siap membantu, atau kunjungi anekalogam.co.id untuk info produk terkini.