Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Volatilitas harga emas di 2026 terbilang ekstrem. Setelah mencapai rekor di atas $5.500/troy oz awal tahun, harga emas anjlok hampir 30% ke bawah $4.000 menjelang pertengahan 2026. Meski begitu, WGC mencatat emas masih masuk dalam daftar aset dengan kinerja terbaik dalam 12 bulan terakhir. Menurut analisis WGC, level harga saat ini sudah cukup mencerminkan kondisi makroekonomi global: pertumbuhan ekonomi moderat, inflasi mulai mereda, dan bank sentral tak lagi agresif menaikkan suku bunga. Dalam kondisi seperti ini, WGC memperkirakan emas cenderung bergerak sideways dengan rentang ±5% dari posisi saat ini — kecuali muncul pemicu signifikan dari dalam atau luar negeri.
Ada tiga katalis utama yang bisa menghidupkan kembali reli emas. Pertama, memburuknya kondisi ekonomi global atau meningkatnya ketegangan geopolitik — dalam skenario ini, harga bisa kembali ke $4.500/troy oz atau lebih. Kedua, pergeseran ekspektasi suku bunga ke arah lebih longgar (dovish) akan memberikan angin segar bagi emas, karena biaya menyimpan aset non-bunga menjadi lebih ringan. Ketiga, masuknya kembali investor jangka panjang yang melihat harga saat ini sebagai kesempatan beli menarik.
Di sisi sebaliknya, ada beberapa tekanan yang perlu dicermati. Setelah performa luar biasa di 2025, banyak investor sudah merealisasikan keuntungan dan merotasi portofolio mereka. Jika dolar AS tetap kuat, yield obligasi naik, dan sentimen pasar membaik, harga emas bisa tertekan lebih lanjut. Namun WGC mencatat bahwa secara historis, penurunan lebih dari 10% biasanya memicu lonjakan permintaan beli — sehingga penurunan besar cenderung menarik investor baru masuk.
Dukungan struktural dari bank-bank sentral global tetap menjadi fondasi kuat bagi emas. Sejak 2022, bank sentral secara konsisten membeli sekitar 1.000 ton emas per tahun. Survei Cadangan Emas Bank Sentral WGC menunjukkan mayoritas pengelola devisa berencana menambah alokasi emas dalam 12 bulan ke depan. Menariknya, setiap tambahan 20–30 ton di atas rata-rata jangka panjang (600 ton/tahun) berpotensi mendukung kenaikan harga sekitar 1%.
India juga layak diperhatikan — sebagai pasar emas terbesar kedua dunia dengan konsumsi sekitar 800 ton per tahun. Pemerintah India baru-baru ini menaikkan bea masuk emas dari 6% menjadi 15% dan menggalakkan kampanye pengurangan konsumsi demi menjaga cadangan devisa. WGC memperkirakan kebijakan ini bisa memangkas permintaan perhiasan, batangan, dan koin hingga 50–60 ton atau sekitar 10% dibanding tahun lalu.
Secara keseluruhan, emas di paruh kedua 2026 kemungkinan akan bergerak sideways di level saat ini — namun tetap menyimpan potensi kenaikan yang signifikan jika risiko global meningkat atau arah kebijakan moneter berubah. Dukungan struktural dari bank sentral dan investor jangka panjang menjadi penyangga penting yang membatasi potensi penurunan lebih dalam.
Bagi investor emas Indonesia, momen seperti ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk mempertimbangkan akumulasi bertahap. Ingin mulai atau menambah koleksi emas Anda? Kunjungi toko Anekalogam di Mall Artha Gading, atau jelajahi pilihan lengkap di anekalogam.co.id.