Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Harga emas memang sedang mengalami koreksi — tapi bukan berarti tren besarnya sudah berakhir. Itulah pesan utama Brad Dunkley, Co-Founder sekaligus Chief Investment Officer Waratah Capital Advisors, dalam wawancaranya dengan Kitco News. Menurutnya, koreksi ini justru membuka jendela beli yang menarik, baik untuk emas fisik maupun saham-saham perusahaan tambang emas.
Argumen Dunkley sederhana tapi kuat: pemerintah dan bank sentral sudah terlalu bergantung pada utang sehingga tidak bisa membiarkan suku bunga naik terlalu tinggi. Artinya, resesi yang benar-benar menyakitkan hampir tidak akan dibiarkan terjadi dalam jangka panjang. "Utangnya sudah terlalu besar, mereka tidak bisa biarkan suku bunga naik. Mereka tinggal jalankan ekonomi panas-panas saja. Mereka akan cetak uang," katanya blak-blakan. Pola ini sudah terlihat berulang kali: begitu ekonomi mulai goyah, stimulus langsung diguyurkan. "Tidak ada resesi yang boleh terjadi. Pengangguran tidak boleh naik. Ada yang buruk? Kami kirimkan uang, silakan belanjakan," ujarnya menggambarkan logika kebijakan yang kini dominan.
Bagi emas, lingkungan seperti ini adalah angin segar jangka panjang. Ketika suku bunga riil ditekan rendah dan suplai uang terus bertambah, daya tarik emas sebagai penyimpan nilai semakin kuat. Dunkley menunjuk perjalanan emas dari sekitar $35 per troy ounce di awal 1970-an hingga lebih dari $4.500 per troy ounce saat ini sebagai bukti nyata. Ia juga menyoroti meningkatnya fragmentasi geopolitik global — "Kita hidup di dunia di mana negara-negara tidak saling percaya. Bank-bank sentral sudah menjadi pembeli emas terbesar sejak kondisi itu dimulai." Tren akumulasi emas oleh bank sentral ini diperkirakan terus berlanjut dan menjadi penyangga permintaan jangka panjang.
Yang menarik, Waratah Capital justru lebih banyak memegang saham produsen emas ketimbang emas fisik. Alasannya? Pasar saham masih mendiskon harga emas jangka panjang jauh di bawah harga spot saat ini — artinya ada potensi apresiasi ganda. "Kalau kamu tidak tahu mereka perusahaan tambang emas, kamu akan berpikir mereka adalah perusahaan terbaik di dunia. Margin arus kas bebasnya luar biasa. Banyak yang sudah bersih dari utang karena begitu banyaknya uang yang mereka hasilkan," tutur Dunkley.
Grant McAdam, Associate Portfolio Manager di Waratah, menambahkan bahwa bahkan setelah koreksi emas, banyak produsen masih mencetak free cash flow yield yang sulit ditemukan di sektor lain. Sebagian besar investor institusi masih underweight di sektor ini — karena pasar saham umum masih memberikan return tinggi dan mengurangi urgensi untuk beralih. Dunkley percaya rotasi besar ke saham tambang baru akan terjadi ketika aset lain mulai kesulitan, persis seperti yang terjadi di era 1970-an.
Di antara pilihan Waratah saat ini: Artemis Gold, Alamos Gold, dan IAMGOLD — ketiganya produsen Kanada yang dinilai beroperasi di yurisdiksi stabil dengan potensi akuisisi yang menarik.
Pantau terus perkembangan harga emas dan strategi investasi terkini di anekalogam.co.id, atau kunjungi langsung Toko Anekalogam di Mall Artha Gading, Jakarta.