Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Emas membuka pekan ini di $4.539/troy ons, sempat bergerak naik karena ketegangan baru di Timur Tengah — khususnya seputar Iran dan Selat Hormuz. Namun reli itu tidak bertahan lama. Setelah laporan menunjukkan Tehran mundur dari negosiasi, dolar AS dan imbal hasil obligasi menguat, menekan emas kembali turun. Puncak mingguan hanya tercapai di $4.545/troy ons pada hari Senin, sebelum tekanan jual mengambil alih.
Sepanjang pertengahan pekan, emas mencoba stabil. Optimisme tipis muncul dari kabar gencatan senjata parsial Israel-Hezbollah, namun langsung teredam oleh data JOLTS (lowongan pekerjaan AS) yang melonjak ke 7,6 juta pada April — sinyal bahwa The Fed (bank sentral AS) belum punya alasan untuk melonggarkan kebijakan moneter. Data ADP di hari Rabu memperkuat gambaran pasar kerja yang solid, menjaga imbal hasil obligasi tetap tinggi dan emas tetap tertekan.
Pukulan terbesar datang di hari Jumat: laporan ketenagakerjaan Mei menunjukkan 172.000 lapangan kerja baru — jauh di atas ekspektasi. Hasilnya, spekulasi soal kenaikan suku bunga kembali mencuat. Emas jebol secara teknikal, menyentuh level terendah mingguan di $4.311/troy ons (~Rp140.700/gram) sebelum sedikit rebound menjelang penutupan.
Salah satu yang paling disorot para analis adalah jebolnya moving average 200-hari — level yang tidak pernah ditembus ke bawah sejak November 2023. Marc Chandler dari Bannockburn Global Forex menyebut emas terlihat "berat", sementara Alex Kuptsikevich dari FxPro mengingatkan bahwa semakin sering level ini diuji, semakin kuat sinyal pelemahan sentimen. Secara teknikal, emas berpotensi menguji moving average 50-minggu di sekitar $4.250/troy ons dalam waktu dekat.
Dukungan terdekat ada di kisaran $4.367 (terendah Mei), lalu $4.128 (terendah 23 Maret) jika tekanan berlanjut.
Minggu lalu, sekitar 75% analis Wall Street masih bullish. Pekan ini? Angkanya terbalik: 74% dari 15 analis kini bearish, hanya 13% yang masih mengharapkan kenaikan, dan 13% memperkirakan konsolidasi. Di sisi ritel, dari 49 suara online: 47% masih optimis naik, 37% memperkirakan turun, dan 16% sideways.
Yang menarik, tidak semua analis sependapat bahwa ini adalah awal bear market. Rich Checkan dari Asset Strategies International menilai selloff ini berlebihan — sebab imbal hasil deposito riil tetap negatif ketika suku bunga 3.5% masih kalah dari inflasi 3.8% yang terus merangkak. Eugenia Mykuliak dari B2PRIME Group menyebut ini sebagai bentrokan antara penjualan jangka pendek oleh investor vs. permintaan strategis jangka panjang dari negara-negara berdaulat. Catatan positifnya: bank sentral global masih menambah cadangan emas — 17 metrik ton di bulan April saja.
Kalender ekonomi pekan ini cukup padat. Selasa ada data Existing Home Sales, lalu Rabu menjadi hari krusial dengan rilis CPI (indeks harga konsumen AS) dan keputusan suku bunga Bank of Canada. Kamis giliran ECB (bank sentral Eropa) mengumumkan kebijakan — pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga — ditambah data PPI dan klaim pengangguran AS. Jumat ditutup dengan Survei Sentimen Konsumen Universitas Michigan.
Data CPI yang panas bisa memperparah tekanan pada emas; sebaliknya, angka yang lebih lunak dari perkiraan bisa menjadi katalis rebound yang dibutuhkan pasar.
Ingin diskusi soal strategi beli emas di tengah volatilitas ini? Kunjungi gerai Anekalogam di Mall Artha Gading atau jelajahi koleksi emas kami di anekalogam.co.id.