Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Monday, 22 June 2026

Analis Eks-Lehman: Penurunan Emas Pasca-Fed Lewatkan Gambaran yang Lebih Besar

Harga emas memang terjun setelah Kevin Warsh tampil dengan nada keras di debut pertamanya sebagai Ketua The Fed (bank sentral Amerika Serikat). Warsh berulang kali menegaskan komitmen FOMC (komite kebijakan moneter AS) untuk memulihkan stabilitas harga dan menyebut inflasi sebagai "beban bagi rumah tangga Amerika." Pasar langsung bereaksi: emas tertekan.

Tapi tidak semua orang panik. Rebecca Ivaldi, Market Strategist di FCT Capital Partners dan mantan analis Lehman Brothers, justru membaca situasi ini dengan kepala dingin. "Reaksi algoritma jangka pendek terhadap konferensi pers ini persis seperti yang kita lihat di Januari... tapi menurut saya, reaksi spekulatif jangka pendek ini hampir tidak relevan sama sekali," kata Ivaldi.

Apa yang ditangkap Ivaldi dari pidato Warsh? Beberapa sinyal menarik yang luput dari radar pasar. Pertama, Warsh mengakui bahwa kebijakan moneter terasa "agak restriktif" di sektor perumahan dan dampaknya terhadap ekonomi secara keseluruhan "tidak merata" — bukan kalimat dari seseorang yang siap menaikkan suku bunga agresif. Kedua, Warsh juga mengumumkan pembentukan task force untuk meninjau metode pengumpulan data inflasi, yang menurut Ivaldi bisa berujung pada kesimpulan bahwa tekanan inflasi sebenarnya sudah lebih dekat ke target Fed daripada yang terlihat dari data resmi. Ketiga, Warsh secara terbuka meremehkan pentingnya "dot plot" (proyeksi suku bunga dari anggota Fed), menyebutnya sebagai proyeksi yang bisa berubah.

Bagi investor emas, Ivaldi justru melihat cerita yang lebih penting di luar kebijakan Fed. Ia menyoroti perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan evolusi bertahap perdagangan non-dolar sebagai pendorong permintaan fisik emas jangka panjang. Menurutnya, pembukaan kembali jalur perdagangan energi di kawasan tersebut bisa mendorong surplus perdagangan Timur Tengah dialihkan ke emas fisik melalui pasar China — sebuah sumber permintaan struktural yang tidak bergantung pada ekspektasi suku bunga jangka pendek.

Ivaldi juga mengingatkan soal beban utang pemerintah yang terus membengkak. Ketika biaya pinjaman naik, ada batas seberapa jauh kebijakan moneter bisa diperketat tanpa mengguncang pasar obligasi. Ini memberikan insentif bagi pembuat kebijakan untuk menjaga imbal hasil Treasury tetap terkendali — dan secara historis, skenario seperti ini mendukung aset keras seperti emas. "Jawboning (retorika keras) memang bisa bertahan beberapa hari, tapi pipa-pipa bawah permukaan menceritakan kisah yang sesungguhnya," ungkap Ivaldi. "Dolar semakin kurang fungibel untuk perdagangan internasional, beban utang sovereign tetap besar, dan kasus struktural jangka panjang untuk emas justru semakin kuat."

Apakah ini berarti penurunan emas saat ini adalah peluang beli? Ivaldi tidak memberikan rekomendasi eksplisit, tapi pesannya jelas: jangan biarkan reaksi pasar jangka pendek mengaburkan fundamental jangka panjang. Bagi kamu yang ingin memantau harga emas terkini sebelum mengambil keputusan, kunjungi anekalogam.co.id atau mampir langsung ke toko kami di Mall Artha Gading.