Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Friday, 05 June 2026

Deglobalisasi Picu Perebutan Komoditas Strategis, Emas Makin Dilirik Investor Global

Dua tokoh besar dunia investasi global baru-baru ini angkat bicara di Sohn Montreal Conference dan menyampaikan satu pesan yang sama: dunia sedang bergerak menuju era baru yang lebih inflasioner, lebih proteksionis, dan lebih haus akan komoditas fisik.

Karen Karniol-Tambour, Co-Chief Investment Officer Bridgewater Associates, menyebut kondisi saat ini sebagai pergeseran menuju "merkantilisme modern" — di mana negara-negara tidak lagi mengutamakan efisiensi ekonomi, melainkan ketahanan dan keamanan nasional. "Setiap kerentanan yang kamu miliki bisa dijadikan senjata," katanya. Hasilnya: perlombaan global untuk mengamankan rantai pasokan, energi, bahan baku industri, dan komoditas strategis.

Louis-Vincent Gave, CEO Gavekal, menambahkan bahwa tekanan inflasi bukan sekadar soal geopolitik. Demografi yang menua di negara maju, defisit fiskal yang membengkak, dan kebutuhan belanja pemerintah yang terus meningkat — semuanya mendorong inflasi struktural jangka panjang. "Kita sekarang hidup di dunia yang lebih inflasioner," tegasnya. Dampaknya terasa langsung di pasar obligasi: obligasi pemerintah yang selama 30 tahun diandalkan sebagai penyeimbang portofolio kini tidak lagi bisa dipegang begitu saja.

Ada faktor besar lain yang turut mendorong permintaan komoditas: ledakan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Pusat data raksasa membutuhkan listrik, jaringan transmisi, dan logam industri dalam jumlah masif. Gave menegaskan bahwa hambatan terbesar bukan pada semikonduktor, melainkan pada kapasitas pembangkit listrik dan infrastruktur energi. "Yang dibutuhkan adalah tembaga, aluminium, perak, dan lebih banyak panel surya," katanya.

Lantas, apa pilihan investasi teratas mereka? Karniol-Tambour memilih emas sebagai komoditas andalan. "Ada begitu banyak ketidakpastian. Permintaan emas secara struktural terus meningkat," ujarnya. Fragmentasi geopolitik dan kekhawatiran soal keamanan cadangan devisa mendorong pemerintah, institusi, hingga investor individu untuk memikirkan ulang di mana mereka menyimpan kekayaan. Gave sendiri lebih memilih tembaga sebagai trade dengan keyakinan tertinggi — tapi ia tetap setuju dengan tesis bullish untuk emas.

Bagi investor emas ritel di Indonesia, pesan dari dua tokoh ini relevan: emas bukan sekadar lindung nilai jangka pendek. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti — perang dagang, risiko cadangan devisa, hingga boom infrastruktur AI — emas memainkan peran strategis yang semakin penting bagi portofolio jangka panjang. Ingin mulai atau menambah koleksi emas fisik Anda? Kunjungi toko Anekalogam di Mall Artha Gading atau cek pilihan produk emas di anekalogam.co.id.