Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Harga emas sedang menghadapi tekanan cukup berat. Lonjakan harga minyak dunia memicu kembali kekhawatiran inflasi, dan memaksa bank-bank sentral menunda rencana pelonggaran moneter. Padahal, di awal 2026 kondisinya terlihat mendukung emas — inflasi mereda, pemangkasan suku bunga tinggal menunggu waktu. Tapi sekarang? Situasinya berubah cepat.
Bank-bank sentral kini mengambil sikap wait-and-see. Kenaikan suku bunga memang belum terjadi, tapi ekspektasi pemangkasan sudah mundur. Ini meningkatkan opportunity cost memegang emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Menurut laporan April dari World Bank, ekonomi global menghadapi guncangan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah akibat eskalasi konflik Timur Tengah. Harga Brent crude melonjak dari $72 ke $118 per barel hanya dalam bulan Maret, dan harga energi diproyeksikan naik 24% sepanjang 2026.
Inflasi yang dipicu dari sisi pasokan ini problematis buat emas — karena memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, meskipun pertumbuhan ekonomi melambat.
Menariknya, di balik tekanan ini, data permintaan emas bicara sebaliknya. World Gold Council melaporkan total permintaan emas naik 2% year-on-year di kuartal pertama mencapai 1.231 ton, sementara nilainya melonjak 74% ke rekor $193 miliar.
Permintaan investasi mendominasi — pembelian batangan dan koin naik 42% ke 474 ton, level kuartalan tertinggi kedua sepanjang sejarah. Lonjakan permintaan fisik ini, terutama dari Asia, menandakan investor masih mengandalkan emas sebagai lindung nilai di tengah ketidakpastian.
Bank of America mempertahankan target harga 12 bulan di $6.000 per ounce (sekitar Rp3,1 juta per gram), menunjuk faktor struktural seperti utang global yang terus naik dan risiko geopolitik yang persisten.
World Bank memproyeksikan harga emas rata-rata sekitar $4.700 per ounce di 2026. Angka ini mencerminkan fase bull market yang lebih matang — harga tetap tinggi tapi menghadapi resistensi dari kekuatan makroekonomi, khususnya suku bunga.
Ketegangan inilah yang mendefinisikan pasar emas saat ini: inflasi dari minyak memperkuat peran emas sebagai hedging, tapi di sisi lain menunda pemangkasan suku bunga dan membatasi momentum kenaikan.
Emas mungkin terlihat rentan dalam jangka pendek, tapi gambaran besarnya belum berubah. Dengan level utang global yang terus naik dan fragmentasi geopolitik yang makin dalam, emas tetap berada dalam long-term bull market — meski jalannya lebih volatile.
Ingin memulai atau menambah koleksi emas Anda? Kunjungi Anekalogam atau datang langsung ke toko kami di Mall Artha Gading untuk konsultasi gratis.