Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Tuesday, 07 July 2026

Emas dan Perak Melemah, Bayang-Bayang Suku Bunga The Fed Masih Membelenggu

Harga emas spot turun 0,29% ke sekitar US$4.161,90 per troy ounce (sekitar Rp68,6 juta per troy ounce) pada akhir sesi Senin, sementara perak tergelincir 0,59% ke US$61,90 per troy ounce. Aksi jual ringan ini terjadi setelah para pelaku pasar memangkas gain dari rebound minggu sebelumnya — rebound yang dipicu oleh data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi.

Menariknya, pasar berjangka justru lebih tangguh. Kontrak emas bulan depan ditutup naik 1,0% ke US$4.155,10 — level penutupan terkuat sejak 22 Juni — sementara futures perak menguat 2,1% ke US$61,92, mencatat kenaikan empat sesi berturut-turut. Namun Rhona O'Connell dari StoneX mengingatkan: "Gold ETF masih sepi peminat", yang menandakan partisipasi investor ritel belum pulih sepenuhnya.

Tekanan terbesar memang datang dari arah kebijakan moneter. Pada pertemuan pertengahan Juni lalu, FOMC (komite kebijakan moneter AS) mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% dengan alasan inflasi masih di atas target 2%. Meski data ekonomi yang lebih lunak sedikit meredam ekspektasi kenaikan selanjutnya, para analis TD Securities mencatat bahwa para trader masih mempertahankan posisi net-short terhadap logam mulia — artinya, belum ada perubahan arah yang signifikan dari para spekulan besar.

Dari sisi geopolitik, ketegangan di Selat Hormuz sempat memberikan sedikit dukungan. Iran memperingatkan kapal-kapal asing agar tidak melintasi tanpa izin. Namun dampaknya ke pasar minyak terbatas — harga WTI justru turun tipis 0,2% ke US$68,55 per barel karena aliran minyak yang pulih dan pemotongan harga oleh Arab Saudi mengimbangi premi risiko geopolitik. Emas pun tak banyak terbantu dari isu ini.

Data ekonomi AS turut mempertegas ketahanan dolar. Indeks jasa ISM tercatat di 54,0 (di atas ekspansi), imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,48%, dan indeks dolar relatif stabil — kombinasi yang terus menjadi tekanan bagi emas dalam jangka pendek.

Proyeksi teknikal: Para analis mematok target resistensi emas di kisaran US$4.260–US$4.400, dengan potensi penguatan lanjutan menuju US$4.500 hingga US$5.000 jika momentum bullish kembali. Sebaliknya, level support krusial ada di bawah US$3.900. Untuk perak, target naik berada di US$64–US$72 per ounce.

Bagi investor emas fisik di Indonesia, kondisi seperti ini — harga terkoreksi namun fundamental jangka panjang tetap solid — kerap menjadi momen tepat untuk mempertimbangkan akumulasi. Kunjungi anekalogam.co.id atau toko kami di Mall Artha Gading untuk konsultasi dan pembelian logam mulia.