Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Thursday, 14 May 2026

Emas Turun Dua Hari Beruntun, Data Inflasi AS Hapus Harapan Pemangkasan Suku Bunga 2026

Emas memperpanjang tren turunnya pada Rabu kemarin, tertekan oleh dua data inflasi AS yang datang berturutan. Pertama, laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan April menunjukkan inflasi konsumen AS naik ke 3,8% — tertinggi sejak Mei 2023. Keesokan harinya, giliran data Indeks Harga Produsen (PPI) yang mengejutkan: kenaikan harga grosir bulan April tercatat sebagai yang paling tajam sejak awal 2022, didorong oleh biaya perdagangan dan harga energi yang masih tinggi akibat konflik di Timur Tengah. Secara kumulatif, emas sudah kehilangan sekitar 3% dalam sebulan terakhir — meski secara tahunan masih tercatat naik hampir 47%.

Implikasi terhadap kebijakan moneter AS datang cepat. Alat pemantau pasar FedWatch milik CME Group mencatat peluang pemangkasan suku bunga di Juni kini hanya 4,2% — nyaris nol. Yang lebih mengejutkan, setelah data PPI dirilis, pasar justru mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga, dengan probabilitas mencapai sekitar 39%. The Fed (bank sentral Amerika) saat ini mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, dan dengan inflasi yang masih membandel, tidak ada tanda-tanda perubahan kebijakan dalam waktu dekat.

Menariknya, ini menampilkan paradoks klasik emas. Emas memang dikenal sebagai pelindung nilai dari inflasi, tapi ketika suku bunga naik, biaya memegang emas (yang tidak menghasilkan imbal hasil) menjadi lebih mahal dibanding memegang obligasi AS. Yield riil surat utang pemerintah Amerika yang masih tinggi inilah yang menjadi tekanan utama bagi permintaan emas dari investor institusional Barat.

Di sisi geopolitik, perhatian pasar tertuju pada rencana kunjungan Presiden Trump ke China yang berpotensi memberi sinyal arah baru dalam gencatan dagang AS–China. Sementara itu, situasi Timur Tengah terus menahan harga minyak di atas US$100 per barel — yang ironisnya justru memperparah inflasi dan mempersulit posisi emas. Dari India, salah satu konsumen emas terbesar dunia, berita kurang menggembirakan juga datang: pemerintah New Delhi menaikkan bea masuk impor emas dan perak dari 6% menjadi 15%, sebuah kenaikan signifikan yang dikhawatirkan menekan permintaan resmi dari negara tersebut.

Namun untuk jangka panjang, pandangan institusi besar tetap optimistis. Goldman Sachs menargetkan harga emas di US$5.400 per troy ounce pada akhir tahun, sementara JPMorgan mematok target lebih tinggi di US$6.300. Keduanya mendasarkan proyeksi pada pembelian emas oleh bank sentral global yang masih deras — sekitar 1.000 ton per tahun menurut World Gold Council — serta kekhawatiran atas defisit fiskal AS dan diversifikasi cadangan devisa dari dolar. Harga penutupan Rabu di sekitar US$4.680 masih berada 16% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa US$5.595 yang dicapai akhir Januari lalu.

Bagi investor emas ritel, jangka pendek memang penuh tekanan. Tapi fondasi struktural emas untuk jangka menengah-panjang tetap kuat. Kalau kamu sedang mempertimbangkan untuk menambah kepemilikan emas fisik, toko emas Anekalogam di Mall Artha Gading atau situs anekalogam.co.id bisa jadi tempat yang tepat untuk mulai.