Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Harga emas turun $47 per troy ounce pada sesi perdagangan Kamis (14/5), menandai penurunan tiga hari berturut-turut. Logam mulia ini semakin menjauh dari level tertingginya dan mulai memasuki zona koreksi, seiring data inflasi AS yang panas memperkuat ekspektasi bahwa The Fed (bank sentral Amerika Serikat) akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun. Pasar bahkan sudah memperhitungkan peluang sekitar 30% untuk kenaikan suku bunga sebelum Desember — perubahan drastis dari beberapa pekan sebelumnya.
Data harga impor dan ekspor yang dirilis Kamis menunjukkan keduanya melonjak jauh di atas perkiraan pada bulan April — kombinasi kenaikan terbesar sejak Maret 2022. Pemicunya: biaya impor bahan bakar yang melonjak akibat konflik Iran yang mengganggu lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Ini menyusul data CPI (indeks harga konsumen) hari Selasa yang mencapai 3,8% — tertinggi sejak Mei 2023 — dan PPI (indeks harga produsen) hari Rabu yang mencatat kenaikan bulanan terjal sejak awal 2022.
Menariknya, ini menciptakan paradoks bagi para investor emas. Normalnya, inflasi tinggi justru mendukung harga emas sebagai lindung nilai. Tapi inflasi kali ini berakar dari guncangan harga minyak — yang sekaligus memaksa The Fed untuk mempertahankan, atau bahkan memperketat, kebijakan moneter. Semakin ketat kebijakan Fed, semakin tinggi "biaya peluang" memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Hasilnya: ada atap struktural pada harga emas yang baru bisa dibuka kalau ketegangan Iran mereda, harga minyak turun, atau inflasi kembali jinak.
Pertemuan puncak Trump-Xi di Beijing yang banyak dinantikan ternyata hanya menghasilkan sedikit katalis pasar. Pernyataan bersama memang mengonfirmasi dukungan kedua negara terhadap status non-nuklir Iran dan transit bebas di Selat Hormuz — tapi tidak menyinggung Taiwan sama sekali, tidak ada kesepakatan perdagangan konkret, dan isu-isu gesekan ekonomi utama seperti kontrol ekspor tanah jarang, tarif, dan rantai pasok tetap menggantung tanpa resolusi. China juga masuk meja negosiasi dari posisi yang kuat, dengan pembatasan ekspor tanah jarang yang kritis untuk industri pertahanan AS dan penerapan undang-undang 2021 yang melarang entitas China mematuhi sanksi Amerika. Analis menilai hasilnya hanya mempertahankan status quo.
Dari sisi ekonomi AS, data penjualan ritel naik 0,5% sesuai perkiraan — tidak memberikan ruang napas bagi emas. Konsumsi yang solid justru memperkuat argumen bahwa The Fed tidak memiliki alasan untuk melonggarkan kebijakan. Dolar AS menguat atas dasar data inflasi dan konsumsi tersebut, yang semakin menekan harga emas berdenominasi dolar dan membuatnya lebih mahal bagi pembeli internasional — termasuk dari Asia.
Variable terpenting minggu ini adalah kelanjutan pembicaraan Trump-Xi pada Jumat. Jika ada sinyal kredibel bahwa Selat Hormuz bisa dibuka kembali atau ada kerangka diplomatik untuk konflik Iran yang mulai terbentuk, harga energi bisa langsung turun tajam — membuka ruang bagi ekspektasi inflasi yang lebih rendah, pivot Fed, dan rebound emas. Pantau terus perkembangan di anekalogam.co.id, atau kunjungi gerai Anekalogam di Mall Artha Gading untuk berdiskusi langsung tentang strategi investasi emasmu.