Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Wednesday, 10 June 2026

Harga Emas Masuk Zona Negatif di 2026, Analis Standard Chartered Ingatkan Risiko Redemption ETF

Pasar emas sedang diuji keras. Setelah sempat mendekati level tertinggi sepanjang masa, harga emas spot kini diperdagangkan di kisaran $4.221 per troy ons — turun hampir 1% dalam sehari dan lebih dari 2% secara year-to-date. Yang lebih mengkhawatirkan, sejak harga emas menembus ke bawah moving average 200 hari pada Jumat lalu, harganya sudah anjlok lebih dari 5%.

Yield Riil Kembali Memimpin Arah Emas

Suki Cooper, Global Head of Commodities Research di Standard Chartered Bank, mengidentifikasi akar masalahnya: emas kembali mengikuti sinyal dari yield riil (imbal hasil obligasi AS setelah dikurangi inflasi). Ia menjelaskan bahwa permintaan investasi via ETF secara historis lebih sensitif terhadap pergerakan yield riil ketimbang dinamika fisik emas itu sendiri.

Ketika inflasi naik dan pasar mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed (bank sentral Amerika Serikat) menjelang akhir tahun, yield riil ikut terdorong lebih tinggi — dan ini meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak menghasilkan bunga. Cooper menyatakan: "Kami memperkirakan pergerakan harga akan semakin rentan dalam waktu dekat, didorong oleh tekanan makro. Emas sudah mulai kembali mengikuti arah yield riil."

270–465 Ton ETF Emas Berada di Zona Merugi

Inilah bagian yang perlu dicermati investor. Cooper mengungkap bahwa pada level harga $4.250 per ons, setidaknya 270 ton kepemilikan ETP (Exchange-Traded Product) emas sudah berada di zona merugi. Angka ini bisa melonjak hingga 465 ton jika diasumsikan redemption yang terjadi tahun ini berasal dari posisi yang dibangun di level harga lebih rendah (metode FIFO).

Jika harga tergelincir ke $4.000 per ons, posisi merugi akan melebar ke 298 ton. Dengan kata lain: semakin dalam harga turun, semakin banyak investor ETF yang tertekan untuk keluar — dan penjualan paksa ini justru bisa mempercepat penurunan harga lebih lanjut.

Cooper juga mencatat bahwa kepemilikan ETP emas turun 16 ton sepanjang Mei, dan tekanan berlanjut hingga Juni. Level support teknikal berikutnya yang diawasi pasar ada di sekitar $4.100 per ons.

Jangka Menengah Masih Dilihat Positif

Meski jangka pendek penuh tekanan, Cooper tetap optimis untuk prospek pemulihan harga dalam jangka menengah. Kuatnya dolar AS memang menjadi hambatan tambahan saat ini, namun secara struktural, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai belum pudar.

Bagi investor emas fisik di Indonesia, pergerakan ini perlu dicermati — terutama karena harga emas domestik juga bergerak mengikuti sentimen global. Jika Anda ingin memahami lebih lanjut soal dinamika investasi emas, kunjungi anekalogam.co.id atau singgah ke toko kami di Mall Artha Gading untuk konsultasi langsung.