Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Pasar emas memang tampak kehilangan arah akhir-akhir ini. Harga menguji support di dekat $4.700 per ounce (sekitar Rp2,4 juta per gram) dan banyak investor yang mulai ragu. Tapi menurut Robert Minter, Director of ETF Strategy di abrdn, justru di sinilah peluangnya.
Dalam wawancara dengan Kitco News, Minter menjelaskan bahwa banyak risiko di pasar finansial global yang belum dihargai dengan benar. “Ada banyak risiko yang mispriced di dunia aset keuangan,” ujarnya. “Investor kini melihat emas sebagai aset inti dalam portofolio mereka.”
Minter menekankan bahwa masalah terbesar saat ini adalah investor terlalu bereaksi terhadap ketidakpastian jangka pendek. Padahal, dalam kurun 20 tahun, korelasi emas terhadap saham hanya sekitar 0,01 — praktis nol. “Meskipun banyak kebisingan di pasar, emas tetap aset safe-haven,” tegasnya.
Menariknya, meski harga emas sempat turun 19,2% dari rekor tertingginya di Januari, bank sentral China justru memanfaatkan koreksi tersebut. “Di bulan Maret, China membeli emas terbanyak dalam satu bulan sejak Januari 2025,” ungkap Minter. “Koreksi 19,2% itu adalah dip yang layak dibeli. Dan pasar masih berada di zona dip itu.”
Salah satu tekanan utama terhadap emas dalam dua bulan terakhir adalah ekspektasi inflasi dan suku bunga yang bergeser. Konflik AS-Israel dengan Iran telah mengganggu rantai pasokan energi global, mendorong harga minyak naik tajam, dan memicu kekhawatiran inflasi. Beberapa analis bahkan memperkirakan The Fed (bank sentral AS) sulit untuk memangkas suku bunga dalam situasi ini.
Namun Minter melihat ini dari sudut berbeda: ketidakcocokan antara data inflasi (yang melihat ke belakang) dan ekspektasi suku bunga (yang melihat ke depan) justru menciptakan distorsi harga — dan peluang bagi investor yang jeli.
“Sulit membayangkan suku bunga bisa naik lebih tinggi sementara utang pemerintah AS terus membengkak,” jelasnya. “Dan perang ini, meskipun mendorong inflasi, justru memperburuk masalah utang.”
Minter memperingatkan bahwa pasar saham mungkin meremehkan skala gangguan yang terjadi saat ini. Ketika pasar akhirnya menyadari risiko yang selama ini tercermin di komoditas, emas bisa mendapat dorongan besar.
“Saya pikir akan ada momen ‘Oh God’ yang datang,” ujarnya. “Saat itulah kita akan melihat permintaan emas melonjak kembali.”
Tekanan struktural — termasuk utang negara yang makin tinggi, kendala energi, dan gangguan pasokan — kemungkinan besar akan bertahan lama. “Bagaimana mungkin keluar dari krisis ini tanpa level utang yang lebih tinggi?” tutupnya.
Bagi Anda yang ingin memanfaatkan momentum ini untuk berinvestasi emas, kunjungi Anekalogam atau datang langsung ke toko kami di Mall Artha Gading.