Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Harga emas saat ini memang sedang bergerak sideways dan tertekan oleh kekhawatiran inflasi jangka pendek yang mendorong ekspektasi kebijakan suku bunga hawkish. Tapi jangan pesimis dulu — setidaknya satu firma investasi besar masih yakin harga emas bisa menutup tahun ini di atas $5.000 per ounce.
Lorenzo Portelli, Head of Cross Asset Strategy di Amundi Investment Institute, dalam laporan logam mulia terbarunya menyatakan bahwa gejolak energi akibat perang yang sedang berlangsung di Iran kemungkinan besar hanya berdampak sementara terhadap inflasi.
“Dalam 12 bulan ke depan, kami tetap konstruktif terhadap emas dan melihat potensi harga bergerak menuju $5.500,” ujar Portelli (setara sekitar Rp1,4 juta per gram di kurs saat ini).
Memang benar, lonjakan harga energi akibat kekacauan di Timur Tengah telah mendorong inflasi tahunan AS ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir di 3,3%. Namun, inflasi inti (core inflation) masih relatif terkendali di 2,6% — belum sampai melesat jauh dari target The Fed (bank sentral AS) di 2%.
“Inflasi inti masih lebih moderat dan terkendali, sehingga mengurangi kebutuhan bank sentral untuk mengambil sikap yang lebih hawkish. Menurut kami, dorongan inflasi dari gejolak energi ini kemungkinan bersifat temporer, bukan persisten,” jelas Portelli.
Menariknya, Portelli juga mencatat bahwa permintaan investasi emas tidak hanya ditentukan oleh suku bunga AS. Dengan harga emas yang sudah turun sekitar 15% dari rekor tertinggi Januari lalu, banyak “kabar buruk” sebenarnya sudah ter-price in di pasar.
Bank sentral tetap jadi pembeli besar. Portelli menegaskan bahwa permintaan dari bank sentral — terutama dari negara-negara emerging market yang terus mendiversifikasi cadangan devisa mereka dari mata uang tradisional — diperkirakan tetap kuat. “Emas tetap menjadi aset strategis bagi pengelola cadangan devisa yang ingin mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memperkuat ketahanan portofolio,” katanya.
Selain itu, meningkatnya utang negara dan masalah likuiditas di pasar kredit swasta juga akan mendorong lebih banyak minat terhadap aset keras (hard assets) seperti emas — meskipun volatilitas jangka pendek masih mungkin terjadi.
“Pada akhirnya, kami tetap memandang emas sebagai aset safe haven yang berharga. Emas bukan pelindung universal terhadap setiap gejolak pasar, tetapi tetap menjadi perlindungan efektif terhadap risiko sistemik, pelemahan mata uang, dan ketidakpastian kebijakan,” tutup Portelli.
Tertarik memantau pergerakan harga emas lebih lanjut? Kunjungi anekalogam.co.id untuk update harga emas harian, atau kunjungi toko kami di Mall Artha Gading untuk konsultasi investasi emas secara langsung.