Close Menu

Change Language

Close Language Selection
Berita Tuesday, 19 May 2026

Harga Emas Menguat Tipis, Tekanan Minyak dan Selat Hormuz Batasi Kenaikan

Emas sedang berjuang menemukan momentumnya. Setelah sempat menyentuh level terendah lebih dari enam minggu, harga emas kembali bergerak naik dengan dorongan dari aksi beli di harga rendah (bargain hunting). Namun penguatan itu sulit berlanjut — harga minyak yang melonjak membawa tekanan inflasi, mendorong imbal hasil obligasi AS (Treasury yields) bertahan di kisaran 4,6%, dan memperkuat spekulasi bahwa The Fed (bank sentral Amerika Serikat) justru bisa menaikkan suku bunga menjelang akhir tahun 2026. Ini adalah kombinasi yang berat bagi logam mulia seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Faktor terbesar saat ini adalah Selat Hormuz. Iran terus mengupayakan kendali atas jalur strategis ini — bahkan membentuk badan baru bernama Persian Gulf Strait Authority untuk mengelola lalu lintas di sana. Sementara itu, Presiden Trump menegaskan bahwa "waktu terus berjalan" dalam isu ini, sinyal bahwa negosiasi diplomatik belum membuka jalan keluar. Dampaknya unik: alih-alih mendorong investor berbondong-bondong ke emas sebagai aset aman (safe haven), ketegangan ini justru mendorong harga minyak semakin tinggi — dan inflasi dari minyak menekan emas lewat jalur imbal hasil yang lebih tinggi.

Simon-Peter Massabni dari XS.com menyimpulkan situasinya dengan tepat: "Harga emas bertahan sedikit di atas US$4.500 per troy ons, mendekati level terendah yang tercatat sepanjang Mei ini. Emas bisa menghadapi tekanan lebih lanjut dalam beberapa hari ke depan seiring pasar bersiap menghadapi eskalasi lebih jauh di Timur Tengah." Saat ini Brent crude berada di kisaran US$110 per barel dan WTI di sekitar US$101,77 — angka yang cukup untuk membuat pasar saham global pun tertekan: Nikkei turun 1,99%, Hang Seng melemah 1,62%, dan DAX Jerman sempat anjlok lebih dari 2%.

Dari sisi kalender ekonomi, minggu ini tidak sepi. Pasar menanti risalah rapat The Fed bulan April yang akan dirilis Rabu malam (Kamis WIB) — dokumen ini akan dicermati untuk mencari petunjuk apakah bank sentral AS mulai serius mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebagai respons terhadap lonjakan inflasi energi. Jika nada risalah itu hawkish, emas bisa kembali tertekan.

Untuk investor emas ritel di Indonesia, situasi ini mengisyaratkan perlunya kehati-hatian jangka pendek. Harga emas dalam rupiah juga berfluktuasi mengikuti pergerakan dolar AS dan sentimen global. Jika Anda sedang mempertimbangkan menambah porsi emas fisik, strategi cicil bertahap atau dollar-cost averaging tetap menjadi pendekatan yang bijak di tengah ketidakpastian seperti ini. Kunjungi anekalogam.co.id untuk mengecek harga terkini atau datang langsung ke toko kami di Mall Artha Gading.