Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Kami membagikan berita-berita terkait logam mulia dan valas secara berkala. Informasi yang kami berikan berasal dari sumber terpercaya sesuai dengan keadaan dan perkembangan tentang logam mulia dan valas terkini.
Harga emas melonjak lebih dari $67 ke level $4.629 per ounce di sesi perdagangan Kamis, didorong pelemahan tajam indeks dolar AS dan aksi bargain hunting oleh para trader logam mulia setelah koreksi beberapa hari terakhir.
Harga emas sempat tertekan namun berhasil rebound setelah Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bank sentral AS tidak terburu-buru mengubah kebijakan moneter di tengah ketidakpastian global.
World Bank memproyeksikan harga emas rata-rata US$4.700/oz tahun ini, naik 37% dari tahun lalu — tapi memperingatkan harga bisa turun 7% di 2027 seiring meredanya ketegangan geopolitik.
Meski harga emas masih tertekan oleh kekhawatiran inflasi jangka pendek dan ekspektasi suku bunga hawkish, firma investasi internasional Amundi tetap optimis emas bisa melampaui $5.000 per ounce di akhir tahun — bahkan berpotensi menuju $5.500.
Emas menutup pekan dengan penurunan 1,36% di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Perhatian kini beralih ke keputusan suku bunga dari 5 bank sentral utama dunia.
Harga emas memang sedang bergerak datar di kisaran $4.600-$4.900 per ounce. Tapi jangan salah — di balik ketenangan ini, fondasi emas justru makin kokoh berkat akumulasi besar-besaran oleh bank sentral dunia.
Meski harga emas terlihat lesu di kisaran $4.700 per ounce, seorang manajer investasi menegaskan bahwa koreksi ini justru peluang — apalagi setelah bank sentral China mencatat pembelian emas terbesar sejak awal 2025.
Harga emas futures naik $19 ke level $4.758/oz di tengah perpanjangan gencatan senjata AS-Iran — tapi komentar hawkish calon Ketua The Fed Kevin Warsh membatasi laju kenaikan.
Emas merosot tajam lebih dari $100 dalam sehari — dari $4.842 ke sekitar $4.700 per troy ounce — dipicu penguatan dolar AS dan kekhawatiran inflasi yang meningkat akibat konflik Iran yang belum mereda.