Untuk Info LM: (021) 4586-3943, (021) 4586-3945
Untuk Info Valas: (021) 4586-3788, (021) 4586-3789
Kami membagikan berita-berita terkait logam mulia dan valas secara berkala. Informasi yang kami berikan berasal dari sumber terpercaya sesuai dengan keadaan dan perkembangan tentang logam mulia dan valas terkini.
Pasar emas mengalami tekanan selama empat sesi perdagangan berturut-turut di bulan Agustus, dengan kontrak berjangka Desember turun ke level $2.429,80. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran resesi AS, fluktuasi imbal hasil obligasi, dan penguatan dolar. Sementara itu, probabilitas pemotongan suku bunga yang agresif oleh Federal Reserve pada pertemuan September melonjak drastis, mencerminkan ketidakpastian ekonomi yang meningkat dan potensi perubahan kebijakan moneter.
Pasar emas mencapai rekor tertinggi baru di atas $2.500 per ons minggu ini, didorong oleh sinyal Federal Reserve untuk pemotongan suku bunga dan ketidakpastian geopolitik. Namun, kekhawatiran resesi yang meningkat menyebabkan volatilitas, memaksa beberapa investor menjual emas untuk mendukung posisi ekuitas mereka. Meskipun demikian, para analis tetap optimis terhadap prospek emas jangka panjang, menyarankan investor untuk membeli saat harga turun.
Emas sedang bersiap untuk reli besar, tapi masih menunggu momen yang tepat. Ryan McIntyre dari Sprott Inc. menilai, meskipun Fed siap memangkas suku bunga September nanti, investor besar masih ragu-ragu.
Survei terbaru Bloomberg mengungkapkan bahwa emas diprediksi menjadi aset lindung nilai terbaik jika Donald Trump memenangkan pemilihan presiden AS November mendatang. Mayoritas dari 480 responden meyakini kebijakan Trump akan melemahkan dolar AS dan mendorong kenaikan harga emas, dengan lebih dari 60% memproyeksikan pelemahan greenback. Sejarah mendukung pandangan ini, mengingat selama masa jabatan Trump sebelumnya, dolar turun lebih dari 10% sementara harga emas spot menguat lebih dari 50%. Analis menekankan bahwa faktor-faktor seperti ketegangan geopolitik, defisit yang membengkak, dan diversifikasi cadangan bank sentral akan terus mendukung reli emas, terlepas dari hasil pemilihan, namun bisa lebih intens dalam skenario "Trump 2.0" atau "gelombang merah".
Harga emas melonjak lebih dari $20 didorong oleh data ekonomi AS yang menunjukkan penurunan inflasi dan pertumbuhan PDB yang kuat. Pasar kini mengantisipasi kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada September, memberi angin segar bagi aset-aset berisiko dan safe haven seperti emas.
Menjelang pemilihan presiden AS, World Gold Council memproyeksikan peningkatan permintaan emas akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Terlepas dari hasil pemilu, emas diperkirakan akan tetap menjadi aset lindung nilai yang menarik di tengah gejolak politik dan ekonomi global.
Pasar emas mengalami pekan yang bergejolak, mencatat rekor tertinggi baru sebelum mengalami koreksi tajam. Sentimen pasar yang berubah-ubah, ekspektasi kebijakan Fed, dan faktor geopolitik menjadi penentu utama pergerakan harga logam mulia ini.
Harga emas global mencapai rekor tertinggi baru, didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve dan dukungan kebijakan ekonomi dari mantan Presiden Donald Trump. Meski demikian, kekuatan dolar AS masih menjadi faktor penahan laju kenaikan harga logam mulia tersebut.
Pasar emas menunjukkan ketangguhan luar biasa minggu ini, mempertahankan posisinya di atas $2.400 per ons meski menghadapi tekanan inflasi. Dengan ekspektasi penurunan suku bunga yang meningkat dan sinyal dovish dari Federal Reserve, para analis optimis emas akan mencapai rekor tertinggi baru. Simak analisis mendalam tentang faktor-faktor yang mendorong kekuatan pasar emas dan proyeksi para ahli untuk pergerakan harga di masa depan.